Buku Rujukan

header ads

FIKIH THAHARAH

Fikih Thaharah
بسم الله الرحمن الرحيم

Hampir semua kitab-kitab fikih, dalam susunannya meletakkan fikih ibadah sebagai pembahasan pertama, dan secara detail meletakkan bab thaharah pada bagian paling depan karena secara urutan thaharah itu adalah kuncinya ibadah, tanpanya ibadah tidak sah. Itulah sebab mengapa bab thaharah paling banyak dibicarakan ketika membahas fikih ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu; 

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِطَهُوْرٍ
Tidak diterima shalat tanpa bersuci (HR. Muslim, No. 224)[1]


Thaharah secara bahasa artinya adalah “bersuci”, baik mensucikan diri dari hal bersifat hissy (suci dari benda kotor) maupun yang bersifat maknawiy (suci dari kotornya diri dari keyakinan yang salah). Adapun secara istilah fikih Thaharah lebih digunakan untuk makna yang pertama, hal ini terlihat dari defenisi yang disusun oleh Ulama; [2]
 
رَفْعُ الْمَنْعِ الْمُتَرَتَّبِ عَلىَ الْحَدَثِ أَوِ الْنَجَسِ
Mengangkat penghalang (ibadah) yang disebabkan oleh hadas atau najis
Berdasarkan defenisi ini, maka semua pekerjaan yang digunakan untuk mengangkat hadas seperti berwudhu’ atau mandi wajib maupun tayamum dan mengangkat Najis seperti istinja’ atau menyamak jilatan Anjing atau Babi, semuanya masuk dalam pembahasan Fikih Thaharah. [3] 


Mudahnya, secara umum semua permasalahan hukum Islam masuk dalam disiplin Ilmu Fikih, dalam Ilmu Fikih itu dibagi dalam 4 pembahasan besar, yaitu; ibadah, muamalah (transaksi ekonomi), munakahat (rumah tangga) dan jinayah (pidana perdata). Kemudian, dalam fikih ibadah dibagi lagi sesuai dengan pengkelompokannya, diantaranya adalah kelompok pembahasan mengenai cara mensucikan najis dan mengangkat hadas yang digabung dalam pembahasan fikih thaharah.


Wallahu A’alm


Penulis: Muhammad Hanafi 

(Koordinator Muntada Muzakarah Asatiz Riau)


__________________
Referensi:

[1]   Imam Muslim, Shahih Muslim, (Riyad: Dar Thayyibah, 1426 H), h. 121
[2]  Ahmad Zainuddin Al-Ma’bari Al-Malibari, Fathu Al-Muin, (Beirut: Dar Ibn Hazam, 1424 H/ 2004 M), h. 40
[3]  Muhammad bin Al-Khatib Al-Syarbaini, Mughni Al-Muhtaj, (Beirut: Dar Al-Ma’rifah), h. 43