Buku Rujukan

header ads

HUKUM AIR MUSTA’MAL

Hal penting yang sangat diperhatikan ulama dalam ibadah diantaranya adalah bersuci, baik dari hadas besar maupun hadas kecil. Dan salah satu media utama bersuci adalah air. Maka para ulama mengakaji air dengan rinci untuk memastikan bahwa air yang dipakai bersuci dapat mensucikan dengan sempurna. Salah satu pembagian air dalam mazhab Imam Syafii ialah air musta’mal.  Maka dalam tulisan singkat ini sedikit mengulas mengenai hukum air musta’mal.

Makna Air Musta’mal 

Air musta’mal adalah bekas atau sisa air yang dipakai untuk bersuci dari hadas besar ataupun hadas kecil atau dipakai untuk menghilangkan najis. Dan sifat dari bersuci tersebut adalah wajib, seperti basuhan pertama dalam wudhu’ untuk mengangkat hadas. (Fathurrahman Syarah Zubad Ibn Ruslan, h. 66)

Dari definsi ini dipahamai, jika air tersebut bekas untuk bersuci yang bersifat sunnah, seperti basuhan anggota wudhu’ untuk kali kedua dan ketika maka tidak termasuk air musata’mal. Demikikan juga bekas air memperbaharui wudhu’ dan bekas air mandi sunnah tidak termasuk kategori air musta’mal. 

Kriteria lain juga yang harus terpenuhi untuk dikatakatan air musta’mal adalah air tersbut kadarnya sedikit yaitu kurang dari dua kulah. (Hasyiyah ‘alaa syarhi ‘allamah Ibn Qasim al-Ghuzzi ‘alaa matni abi syuja’, h. 66). Adapun Kadar air dua kulah sesuai dengan ukuran kilogram senilai dengan 192,857 kg (Al-Fiqh al-Manhaji, h. 34) atau 195,112 kg setara dengan 270 liter. (al-Fiqhu al-Islam Wa adillatuh, h. 236)


Hukum Air Musta’mal

Menurut qaul jadid dalam mazhab Syafii air musta’mal adalah suci tapi tidak mensucikan. (Muhammad al-Syarbini al-Khatib, Mugn al-Muhtaj, h. 20) Artinya air musta’mal tidak bisa dipakai untuk mengangkat hadas kecil ataupun besar, dan juga tidak bisa untuk mensucikan najis.

Dalil Mazhab Syafii Terkait Hukum Air Musta’mal

Dalil sucinya air must’mal, hadis Nabi saw :

 عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : جَاءَ رَسُوْلُ للهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُوْدُنِيْ وَأَنَا مَرِيْضٌ لَا أَعْقِلُ فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ مِنْ وُضُوْئِهِ عَلَيَّ. 

Rasulullah Saw datang menziarahiku ketika aku sakit dan tidak sadar, lalu baginda berwudhu’ dan mencurahkan air wudhu’nya ke atasku. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Dipahami dari hadis ini, sekiranya air bekas berwudhu’ itu tidak suci, baginda tidak akan mencurahkannya ke atas Jabir ra.  (Al-Fiqh Al-Manhaji, h. 66)

Dalil air musta’mal tidak mensucikan :

 عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلي الله عليه وسلم قَالَ : لَا يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِيْ الْمَاءِ الدَّائِمِ أَيْ الرَّاكِدِ وَهُوَ جُنُبٌ، فَقَالُوا : يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، كَيْفَ يَفْعَلُ ؟ قَالَ : يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا. 

Janganlah seseorang daripada kamu mandi dalam air tenang dan tidak mengalir, sedangkan dia junub. Lalu para sahabat bertanya: wahai Abu Hurairah! Bagaimana sepatutnya yang dia lakukan? Abu Hurairah menjawab : ciduklah dan mandilah dengan air itu. (HR. Imam Muslim)

Hukum berwudhu’ dalam keadaan tersebut sama dengan hukum mandi, karena keduanya mengandung satu tujuan, yaitu mengangkat hadas. Hadis ini mnegandung maksud bahwa mandi di dalam air tersebut menyebabkannya keluar dari sifat air yang menyucikan, sekiranya tidak demikian, maka Rasulullah saw tidak akan melarang perbuatan yang demikian. Dan hadis ini dipahami untuk air yang sedikit berdasarkan pada dalil-dalil yang lain.

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa air musta’mal suci akan tetapi tidak mensucikan. Demikian mazhab  Syafii menurut qaul jadid dan ini sejalan dengan mazhab Hanbali dan juga mazhab Hanafi. Adapun menurut qaul qadim air musta’mal suci dan mensucikan. (Mugn al-Muhtaj) Dan ini sejalan dengan mazhab Maliki. 

Jika air musta’mal terkumpul dan mencapai dua kulah maka statusnya berubah menjadi ari yang suci dan mensucikan. (Mawahib al-Shamad ‘ala Matni al-Zubad, h. 74) Dan percikan air musta’mal yang sedikit mengenai air yang kurang dari dua kulah termasuk hal yang dimaafkan. (Al-Fiqhul Islam Wa Adillatuh, h. 238)


Kesimpulan :

- Air musta’mal memiliki makna tersendiri yang sudah didefinisikan oleh para ulama secara jelas. Sehingga air musta’mal tidak semata air bekas bersuci atau membasuh najis.

- Hukum air musta’mal ada ikhtilaf mengenai hukumnya. Perbedaan bukan saja antara ulama mazhab, tapi dalam lingkup mazhab imam Syafii sudah ada ikhtilaf, sehingga menjadikan perkara ini adalah perkara yang mengharuskan kita lapang dada dalam menyikapinya.

- Air musta’mal bisa saja berubah statusnya menjadi air suci yang mensucikan jika sampai pada kadar dua kulah.

- Percikan sedikit air musta’mal yang mengenai air tergenang yang kurang dari dua kulah, tidak menyebabkan air tersebut menjadi musta’mal.


Referensi:

1. Syihabuddin al-Ramli, Fathurrahman Syarah Zubad Ibn Ruslan, Cet. III; Jeddah: Dar al-Minhaj, 2012 M.

2. Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah ‘ala syarhi ‘allamah Ibn Qasim al-Ghuzzi ‘alaa matni abi syuja’, Juz I, Kairo: Maktabah al-Taufiqiyyah

3. Dr. Mustafa al-Khin dan Dr. Mustafa al-Bugha dan Dr. Ali al-Syarbaji, Al-Fiqh al-Manhaji ‘alaa mazhab al-Imam al-Syafii, Juz I, cet. IV; Damaskus: Dar al-Qalam, 1992 M/1413H.

4. Dr. Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqhh al-Islam Waadillatuh, Juz I, Cet. XXXII; Damaskus: Dar al-Fikr, 2010 M/1431 H

5. Muhammad al-Syarbini al-Khatib, Mugn al-Muhtaj, Juz I, Kairo: Maktabah Mustafa al-Bab al-Halabi, 1958 M.

6. Ahmad bin Hijazi al-Fasyaniy, Mawahib al-Shamad ‘ala Matni al-Zubad, Juz I, Kairo: Dar al-Fadilah


Penulis:

Hasbullah, Lc., MA