Buku Rujukan

header ads

Terlambat Jum’atan

Dalam pelaksanan ibadah shalat jum’at kita sering melihat adanya orang yang terlambat dengan berbagai alasan, adanya yang benar-benar karena uzur, ada tuntutan pekerjaan adapula yang menyengaja diri datang terlambat. Pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat dari fenonema ini adalah “apakah sah shalat mereka yang datang terlambat sehingga tidak mendengarkan khutbah?”

Jumhur Ulama berpendapat bahwa orang yang mendapatkan satu raka’at shalat bersama Imam maka ia dianggap mendapatkan pelaksanaan jum’at. Pendapat ini didasari hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةُ مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ رَكْعَةً (مسند الشافعي : كتاب ايجاب الجمعة)
Barangsiapa yang mendapatkan ruku’ dalam shalat maka ia mendapatkan satu raka’at (Musnad Asy-Syafi’I dalam Pembahasan ijab al-Jum’at)

Dalam hadis lainnya disebutkan lebih jelas
مَنْ أدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صلَاةِ الجُمْعَةِ وَغَيْرِهَا فَلْيُضِفْ إِلَيْهَا أُخْرَى وَقَدْ تَمَّتْ صَلاَتَهُ (رواه النسائي وابن ماجه والدارقطنى)
Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jumat atau shalat yang lain, maka ia harus menambahkan (raka’at tertinggal) yang lain, dan (jika ia menambah raka’at) sempurnalah shalatnya (HR. An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Dar Quthni)

Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan shalat berjamaah meskipun tidak mendapatkan khutbah maka jum’atannya sah, dalam kitab Al-Badr At-Tamam disebutkan bahwa ini merupakan pendapat pilihan dalam mazhab Asy-Syafi’I dan Abu Hanifah.

Dalam kitab subulussalam syarah bulughul maram juga dijelaskan bahwa hadis ini berlaku pada shalat jum’at dan shalat lainnya. dalam artian masbuk satu raka’at dalam shalat jum’at tetap mendapatkan pelaksanaan jum’atan dan cukup menambah satu raka’at lainnya yang tertinggal
Mengomentari hadis ini Imam Asy-Syafi’I menjelaskan secara detail dalam kitab “Al-Umm”;

من أدرك ركعة من الجمعة بنى عليها ركعة أخرى وأجزاته الجمعة . وإدراك الركعة أن يدرك الرجل قبل رفع رأسه من الركعة ، فيركع معه ويسجد. فإن أدركه وهو راكع فكبر ثم لم يركع معه حتى يرفع الإمام رأسه من الركعة ويسجد معه لم يعتد بتلك الركعة وصلى الظهر أربعا (الأم ، ج : 2 ، ص: 425)
Barangsiapa mendapat satu raka’at shalat jum’at, maka ia hanya perlu menambah satu raka’at lagi dan dengan itu ia mendapatkan pelaksanaan jum’atan. Dan orang yang dikatakan mendapatkan raka’at itu adalah yang ikut ruku’ sebelum Imam mengangkat kepalanya (I’tidal) dan ikut sujud. Jika ia mendapatkan imam ruku’ lalu ia bertakbir namun tidak ikut ruku’ sampai imam mengangkat kepalanya (I’tidal) meskipun ia ikut sujud bersama imam, maka Ia dianggap tidak mendapatkan raka’at itu dan hendaklah ia shalat zuhur (Al-Umm, J. 2, h. 425)

Hadis ini juga dikomentari dalam kitab subulussalam;

وفى الحديث دلالة على أن الجمعة تصح للأحق وإن لم يدرك من الخطبة شيئا، وإلى هذا ذهب زبد بن علي والمؤيد والشافعي وابو حنيفة. وذهبت الهادوية إلى أن إدراك شيئ من الخطبة شرط لا تصح الجمعة بدونه (سبل السلام ، ص: 47)
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at sah bagi yang mendapatkan raka’at meskipun tidak mendapatkan khutbah sedikitpun. Ini pendapat Zubad bin Ali, Al-Muayyid, Imam Asy-Syafi’I dan Imam Abu Hanifah. Meskipun Al-Hadawiyah mendapatkan khutbah syarat Jum’atan dan tidak sah kecuali mendengar khutbah. (Subulussalam, h. 47)

Selain pendapat Imam Asy-Syafi’I dan syarah subulussalam di atas, kita juga bisa melihat beberapa komentar Ulama yang dikutip dari kitabnya;
1. Syeikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani dalam Nihayat Al-Zein juga menyatakan

وشرط وقوعها (الجمعة) جماعة فى الركعة الأولى
Disyaratkan terlaksananya Jum’atan jika dilaksanakan berjama’ah setidaknya pada raka’at pertama

2. Muhammad Al-Khatib Al-Syarbaini dalam Mughni Al-Muhtaj
الجماعة (فى صلاة الجمعة) شرط فى الركعة الأولى فقط ، بخلاف العدد فانه شرط فى جميعها كما سيأتي ، فلو صلّى الإمام ركعة بأربعين ثم أحدث فأتم كل منهم لنفسه ... أجزأتهم الجمعة (مغني المحتاج ، ص: 545)
Berjamaah (pada shalat Jum’at) disyaratkan pada raka’at pertama saja, berbeda dengan masalah jumlah karena ia merupakan syarat pada keseluruhan sebagaimana akan dibahasa akan datang, jika Imam shalat satu raka’at bersama 40 orag kemudian ia berhadas namun ia tetap menyempurnakan jumlah bilangan jama’ah dengan diriya… maka Jum’atannya sah (Mughni Al-Muhtaj, h. 545)

وأما المسبوق المدرك مع الامام ركعة فهو كغيره فيما تقدم فإذا خرج الوقت قبل قيامه الثانية أتمها ظهرا على الأصح (مغني المحتاج : 542)
Dan adapun masbuk (shalat Jum’at) namun ia mendapatkan satu raka’at bersama Imam, maka sama dengan shalat lainnya yang dibahas sebelumnya. Jika waktu sudah habis sebelum ia menambah raka’at kedua maka ia menyempurnakannya dengan shalat zuhur menurut pendapat yang Ashah (Mughni Al-Muhtaj: 542)

3. Syihabuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Ahmad bin Hamzah Al-Ramli dalam Fathurrahman Syarah Zubah Ibnu Ruslan

بما تدرك الجمعة ؟ تدرك الجمعة بركعة مع الامام لا بما دونها، لخبر "من أدرك ركعة من الصلاة... فقد أدركها" رواه الشيخان ، ولخبر "من أدرك من الجمعهة ركعة... فليصل إليها أخرى" وخبر "من أدرك من صلاة الجمعة ركعة ... فقد أدرك الصلاة " رواهما الحاكم. وعلى هذا : فلو أدرك ركوع الثانية المحسوب للامام واطمأن قبل أن يرفع الامام رأسه عن أقل الركوع أدرك الجمعة فيصلى ركعة أخرى جهرا، فإن أدرك الامام بعد ركوعها.. نوى الجمعة تبعا للامام وأتمها ظهرا أربعا (رحمة الامة شرح زباد ابن رسلان ، ص : 349 – 350)
Kapan seseorang dianggap mendapatkan Jum’at? Seseorang mendapatkan Jum’atan dengan syarat mendapat minimal satu raka’at bersama Imam. Berdasarkan hadis “barangsiapa mendapatkan satu raka’at dalam shalat.. maka ia mendapatkannya” (HR. Syaikhani) dan hadis “barang siapa mendapatkan satu raka’at dalam shalat Jum’at… maka sempurnakanlah rakaat lainnya” dan hadis “barangsiapa mendapat satu rakaat shalat Jum’at.. maka sungguh ia mendapatkan shalat tersebut” (dua hadis ini diriwayatkan Al-Hakim).
Berdasarkan ini: jika didapati ruku’ pada raka’at kedua bersama Imam dan mendapatkan thama’ninah (dalam ruku’ tersebut) sebelum Imam mengangkat kepadanya, maka ia mendapatkan pelaksanaan Jum’ata tersebut dan ia harus menambah satu raka’at lagi secara jahar. Tapi jika Imam sudah bangun dari ruku’nya, ia tetap berniat Jum’atan untuk mengikut Imam namun harus menyempurnah shalat Zuhur 4 raka’at (Rahmatul Ummah, Syarah Zubad Ibnu Ruslan, h. 349-350)

4. Imam Asy Syirazi dalam kitab Al-Muhazzab Fi Fiqhil Imam Asy-Syafi’I

كما قال فى المسبوق : إذا أدرك مع الإمام ركعة أتم الجمعة وإن لم يدرك ركعة أتم الظهر
Sebagaimana dikatakan pada orang yang masbuk: apabila ia mendapatkan satu raka’at shalat bersama Imam, maka ia menyempurnakan shalat Jum’atnya, jika tidak maka ia menyempurnakan shalat zuhur.

5. Dalam kitab Al-‘Ubab disebutkan;

فرع (فىى إدراك الجمعة) لو أدرك مع الإمام الركعة الثانية ولو بإدراك ركوعها والسجدتين أدرك الجمعة.
(Tentang mendapatkan Jum’atan) jika ia mendapatkan raka’at kedua bersma Imam, meskipun hanya mendapatkan ruku’nya dan ikut dua sujud setelah itu, maka ia mendapatkan Jum’atan.

6. Dalam I’anatu Tahlibin juga dijelaskan

ولو ادرك المسبوق ركوع الثانية واستمر معه إلى أن سلم أتى بركعة بعد سلامه جهرا وتمت جمعته ان صحت جمعة الامام (اعانة الطالبين : ص: 56)
Jikalau orang masbuk mendapatkan ruku’ pada raka’at kedua lalu ia tetap shalat bersama Imam sampai selesai salam, maka ia tinggal menambah satu raka’at lagi setelah salam tersebut dengan jahar, dan sempurnalah Jum’atannya jika sah Jum’atan sang Imam (I’anatu Al-Thalibin, h. 56)

7. Dalam kitab fathul mu’in

ولو أدرك المسبوق ركوع الثانية واستمر معه إلى أن سلَم أتى بركعة بعد سلامه جهرا، وتمت جمعته إن صحت جمعة الإمام وكذا من اقتدى به وأدرك ركعة معه كما قال شيخنا (فتح المعين ، ص: 195)
Jika si masbuk mendapatkan ruku’ kedua dan tetap ikut shalat bersama Imam sampai salam, maka ia tinggal menambah satu raka’at lainnya secara jahar, dan sempurnalah Jum’atannya jika sah Jum’atan sang Imam, dan begitupula jika ada yang mengikutinya dan mendapatkan satu raka’at bersamanya, sebagaimana yang dikatakan Syaikhuna (Fathu Mu’in, h. 195)

Komentar-komentar sebagian Ulama yang kita cantumkan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa mayoritas Ulama fikih berpendapat senada mengatakan sahnya jum’atan seseorang selama ia mendapatkan minimal satu raka’at shalat Jum’at bersama Imam.

Terlepas dari sahnya jum’atan orang yang terlambat secara fikih, kita juga dapat menemukan ada banyak hadis tentang fadhilah yang didapatkan bagi orang yang datang lebih awal untuk melaksanakan Jum’atan. bahkan Rasulullah saw menganalogikan tingkat fadhilah yang didapatkan orang yang datang lebih awal dengan kurban binatang. Sebagai dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ , ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلائِكَةُ يَسْمَعُونَ الذِّكْرَ (رواه البخارى : 841 ومسلم : 850 ومسند الشافعي فى كتاب ايجاب الجمعة)
Barang siapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub, kemudian pergi (ke masjid) pada waktu yang pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta. Dan barang siapa yang datang pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor sapi. Dan barang siapa yang datang pada waktu yang ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang bertanduk. Dan barang siapa yang datang pada waktu yang keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam. Dan barang siapa yang datang pada waktu yang kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan sebutir telur. Maka, jika imam telah keluar, malaikatpun bergegas untuk mendengarkan khutbah. (HR. Bukhari: No. 841, Muslim, No. 850, dan Musnad Asy-Syafi’I pada pembahasan Ijab Al-Jum’at)

Hadis ini dan hadis-hadis lain yang berkaitan dengan keutamaan datang dari awal untuk melaksanakan jum’atan menunjukkan kuatnya anjuran untuk tidak terlambat, karena bagaimanapun isi khutbah sangat penting untuk didengar oleh seorang Muslim, dan menyengajakan diri untuk datang terlambat merupakan perbuatan tercela meskipun jum’atannya sah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ (الجمعة : 9)
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (QS. Al-Jumu’ah, ayat 9).

Ayat ini tegas menyuruh seorang Muslim untuk menyegerakan diri melaksanakan Jum’atan dan meninggalkan aktifitas jual beli atau aktifitas lain yang dapat melalaikan ibadah. Mengomentari ayat ini syeikh Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan;

قال: (ويحرم على ذى الجمعة) أي من تلزمه (التشاغل بالبيع وغيره) المزيد فى الروضة من العقود والصنائع وغيرها (بعد الشروع فى الاذان بين يدي الخطيب) قال تعالى "إذا نودي....." أي اتركوه والأمر للوجوب وهو بالترك فيحرم الفعل وقيس على البيع غيره مما ذكر لأنه فى معناه فى تفويت الجمعة (كنزالراغبين ، ص: 334)
(Dan haram bagi orang wajib Jum’atan) maksudnya orang yang dibebankan kewajiban Jum’atan (menyibukkan diri dengan jual beli dan urusan lainnya) ditambahkan dalam kitab Al-Raudhah transaksi, memproduksi dan kesibukan lainnya (setelah berkumandang azan di hadapan khatib) Allah berfirman “apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli …” artinya tinggalkanlah, dan perintah menunjukan wajib yaitu meninggalkan jual beli, maka haram melakukannya. Diqiyaskan jual belai dengan urusan lainnya yang membuat lalai melaksanakan Jum’atan (Kanzul Al-Raghibin, h. 334)

Komentar ini juga dibahas lagi lebih detail dan rinci, hanya saja kita cantumkan ini untuk melihat betapa kuatnya anjuran untuk menyegerakan diri melaksanakan jum’atan


Daftar Bacaan:
1. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, al-Umm, Mansurah: Dar Al-Wafa’, 1422 H/ 2001 M, j. 2

2. Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Nail Al-Raja Bi Syarhi Safinat An-Naja, Beirut: Dar Al-Kutb Al-‘ilmiyyah

3. Al-Husain bin Sa’id Al-Maghribi, Al-Badr Al-Tamam Syarhu Bulugh Al-Maram Min Adillati Al-Ahkam, Beirut: Dar Al-Kutb Al-‘Ilmiyah, 1428 H/2007 M, j. 1

4. Muhammad bin Umar Al-Nawawi Al-Jawi Al-Bantani, Nihayat Al-Zain Fi Irsyad Al-Mubtadi’in, Surabaya: Dar Al-Ilm, h. 137.
5. Imam Ibrahim Asy-Syirazi, Al-Muhazzab,Beirut: Dar Al-Fikr, 1429 H/ 2009 M.

6. Shafiyuddin Al-Muzdahajiy Az-Zabidi, Al-‘Ubab Almuhith Bi Mu’zham Nushuhs Al-Syafi’I Wa Al-Ashab, Beirut: Dar Al-Minhaj, 1437 H/ 2016 M.

7. Muhammad bin Ismail Al-Kahlani Ash-shan’ani, Subul As-Salam,

8. Sayyid Al-Bakri, I’anat Al-Thalibin, j. 2.

9. Ahmad Zainuddin Al-Malibari, Fath Al-Mu’in Bi Syarh Al’Ain Bi Muhimmat Ad-Din, Dar Ibn Hazm, 1424 H/ 2004 M.

10. Ahmad Al-Ramli, Fathurrahman Bi Syarhi Zubad Ibn Ruslan, Jeddah: Dar Al-Minhaj, 1430 H/ 2009 M

11. Usman bin Syatha Al-Bakri Abu Bakar, I’anat Ath-Thalibin, Dar Ihya’ Al-Kutb Al-Arabiyah, j. 2

12. Jalaluddin Al-Mahalli, Kanz Al-Raghibin Syarh Minhaj al-Thalibin, j. 3