Buku Rujukan

header ads

Hukum Bekerja Menjadi Pegawai Bank Indonesia (BI)


Pertanyaan:

Assalamualaikum Warhmatullahi wa barakatuh. Semoga Ustadz dilimpahkan panjang umur dan barokah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. 

Saya David Ahmad, mahasiswa Program Studi Perpajakan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Mohon ijin sebelumnya, bahwa saya memperoleh kontak Ustadz melalui instagram Ustadz Abdul Somad Official terkait untuk konsultasi agama Yayasan Tabung Wakaf Umat (YTWU). 

Yang ingin saya tanyakan adalah terkait hukum seorang muslim yang bekerja di Bank Indonesia (Bank Sentral), yang mana mungkin dalam tugas pokok dan fungsi perbankan, bank sentral berbeda serta tidak dapat dipersamakan dengan bank konvensional secara umum. Karena bank konvensional dalam proses bisnisnya bertugas untuk menghimpun dana dari masyarakat berbentuk tabungan dan mengembalikan dana tersebut kembali ke masyarakat dalam bentuk pinjaman dengan tujuan adalah untuk memperoleh imbal hasil berupa bunga. Sedangkan bank sentral dalam tugasnya adalah untuk menjaga stabilitas mata dan nilai uang, nilai tukar, menentukan suku bunga, menentukan kebijakan-kebijakan moneter, serta salah satunya adalah induk dari seluruh perbankan di Indonesia (baik konvensional maupun syariah) 

Lantas terkait dengan perbedaan tugas pokok dan fungsi tersebut secara umum, apa hukumnya Ustadz jika seorang muslim bekerja disana? Mohon jawaban, bimbingan, & petunjuknya.


Jawab :

1. Bank Indonesia (BI) berbeda dengan bank komersial. Bank komersial (bank untuk tujuan komersial, memperoleh laba/keuntungan) dapat dikelompokkan pada 2 jenis : bank konvensional dan bank syariah. Bank komersial dalam pengertian “bank konvensional” dalam proses bisnisnya bertugas menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, giro dan deposito dan mengembalikan dana tersebut kembali ke masyarakat dalam bentuk pinjaman/kredit dengan tujuan untuk memperoleh imbalan berupa bunga (haram). Sementara bank komersial dalam pengertian “bank syariah” dalam proses bisnisnya melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, giro dan deposito dan mengembalikan dana tersebut kembali ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah (halal). Imbalan yang diperoleh bank syariah berupa profit margin jual beli, ujrah/upah, dan bagi hasil. 

2. Bank sentral fungsi dan tugasnya adalah menjaga stabilitas mata dan nilai uang, nilai tukar, menentukan suku bunga, menentukan kebijakan moneter serta (sebelum terbentuk OJK) menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan bagi seluruh perbankan di Indonesia (baik konvensional maupun syariah).

3. Keberadaan Bank Indonesia untuk memastikan kebijakan moneter dan stabilitas sistem perekonomian nasional berjalan dengan baik dan lancar. Kalau ekonomi nasional stabil dan aman, insyaAllah sektor-sektor kehidupan nasional lainnya juga aman dan lancar (agama, politik, keamanan, sosial, budaya, dsb). Disini berlaku kaidah :  

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“sesuatu yang wajib tidak akan sempurna jika tidak ada sesuatu yang lain. Maka sesuatu yang lain itu hukumnya juga menjadi wajib”. 

 Dan juga kaidah :

للوسائل حكم المقاصد

“Hukum sarana/alat/media sama dengan hukum tujuan (maksud)-nya”

Mewujudkan stabilitas perekonomian nasional hukumnya Wajib, karena dengan adanya stabilitas ekonomi nasional maka akan tercipta ketenangan dan stabilitas politik serta sosial dalam masyarakat. Rakyat akan aman dan tenang beribadah (beragama) dan melakukan berbagai aktivitas lainnya sebagai warga negara. Untuk mewujudkan perekonomian nasional yang stabil maka otoritas Negara harus menghadirkan lembaga yang melaksanakan fungsi tersebut. Fungsi tersebut dilaksanakan oleh bank sentral yaitu Bank Indonesia. Maka menjadi pegawai yang bekerja di Bank Indonesia juga bisa dihukumi Wajib.

4. Negara kita bukan Negara Islam. Tetapi nilai-nilai Islam menjadi sumber inspirasi dan menjiwai dalam penetapan hukum yang mengatur kehidupan warga negaranya. Contoh: di Indonesia memiliki UU Perkawinan, UU Wakaf, UU Pengelolaan Zakat, UU Pengelolaan Keuangan Haji, UU Perbankan Syariah, dsb. Meskipun di Indonesia tidak memiliki bank sentral syariah (BI Syariah). Tetapi regulasi dan segala ketentuan pengaturan bank syariah secara kelembagaan dan kegiatan usahanya diatur oleh Bank Indonesia/OJK. BI /OJK berkewajiban menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan tidak hanya bagi bank konvensional tetapi juga bank syariah.

5. Kalau anda seorang muslim yang sholeh berfikir untuk tidak bekerja di BI/OJK atau untuk berhenti bekerja dari BI/OJK karena anda berijtihad bekerja di BI/OJK adalah haram. Maka ribuan orang di luar sana akan siap menggantikan posisi anda. Tapi pertanyaannya kemudian apakah anda yakin yang menggantikan anda tersebut adalah orang yang lebih baik dari anda, atau minimal sama baiknya seperti anda (?). jika semua muslim punya cara pandang seperti anda, lalu ramai-ramai meninggalkan bekerja dari BI/OJK, maka BI/OJK akan diisi oleh orang-orang non muslim yang belum tentu berfikir dan berjuang untuk kepentingan Islam.

6. Jika sudah begitu, lalu siapa yang akan memperjuangkan tegak dan majunya bank syariah di Indonesia (?) Siapa yang akan membuat kebijakan dan aturan yang memperjuangkan pengembangan dan kemajuan bank syariah di Indonesia (?). Justru keberadaanmu di BI/OJK itu gunakanlah untuk menolong agama Allah dengan menghidupkan syiar ekonomi syariah, memajukan dan mengembangkan perbankan syariah dan institusi keuangan syariah. Dengan kekuasaan yang Allah titipkan kepadamu di BI dan OJK itu, engkau pakai untuk menerbitkan aturan dan regulasi yang berpihak kepada kemajuan dan pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Yang dengan itu engkau membantu ummat terlepas dari jeratan riba yang diharamkan oleh Allah. Itulah yang menjadi amal jariyahmu yang akan menerangi kuburmu, yang akan menjadi pemberat timbangan kebaikanmu di padang mahsyar. Dan kelak semoga dengan itu pula menjadi asbab hadirnya rahmat Allah yang akan mengantarkanmu menjadi penghuni surga firdaus bersama sayyiduna Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

إله أنت مقصودي ورضاك مطلوبي

Ya Allah, Engkau Tujuanku dan Ridho-Mu yg ku harapkan


Wallahu a’lam

Konsultasi Ekonomi dan Keuangan Syariah

Yayasan Tabung Wakaf Umat (YTWU)

Oleh : Ust. Noki Syafriadi, Lc. M.E.Sy