Buku Rujukan

header ads

Kokoh Dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah

Memahami istilah Ahlussunnah wal Jama’ah harus di awali dengan menerjemahkannya secara bahasa. Ahlu dalam konteks ini maknanya adalah pengikut atau penganut, Sunnah adalah tunutunan yang diajarkan oleh Nabi dan sahabatnya, dan kata jama’ah artinya sebagaimana maklum kata berjama’ah lawan dari mengasingkan diri. Adapun yang dimaksud secara istilah kata ini bermakna “golongan yang mengiktui ajaran yang diridhai Allah, yaitu ajaran Nabi Muhammad saw dan para sabatnya yang mulia, yang dilanjutkan oleh tabi’in, tabi’ tabi’in dan generasi setelah mereka yang merupakan dari golongan terbesar Umat Islam dalam setiap masanya.

Dari kata ini jelas bahwa mengaku ahlussunnah harus disertai dengan jama’ah-nya yang berarti meyakini pemamahan umat Islam kebanyakan dan tidak berbangga dengan berbeda dengan kebanyakan Umat Islam.

Sejarah Munculnya Istilah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Istilah ini sudah muncul di kalangan sahabat, seperti sahabat muda Ibnu Abbas ra ketika menafsirkan ayat:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

 (النساء: 106)

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. (QS. An-Nisa: 106)

Ia menafsirkannya kata “wajah yang putih berseri” dengan ahlussunnah wal jama’ah dan ahli ilmu, sedangkan yang menghitam wajahnya adalah ahlul bid’ah dan sesat.

Istilah ini kemudian semakin didengungkan saat munculnya banyak aliran akidah yang menyimpang di zaman khalifah Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, munculnya Khawarij, Murjiah, Syiah, Qadariyah dan aliran sesat lainnya untuk membedakan mana aliran yang benar dan sesuai sunnah dengan aliran yang diyakini menyimpang.

 

Ahlussunnah adalah Firqah An-Najiyah

Firqah an-najiyah maksudnya adalah kelompok yang akan selamat. Disebut firqah najiyah karena Ahlussunnah menjadi satu-satunya kelompok yang akan selamat dari 73 kelompok Islam yang akan ada di dunia ini, berdasarkan hadis Rasulullah saw

عن معاوية بن أبي سفيان رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ألا إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة ، وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ، ثنتان وسبعون فى النار ، وواحدة فى الجنة وهي الجماعة

Diriwayatkan oleh Abu Sufyan ra, bahwa Rasulullah saw bersabda; sesungguhnya orang sebelum kamu dan pengikut ahli kitab terpecah belah menjadi 72 golongan. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan akan masuk neraka, dan satu golongan akan masuk surga, yaitu golongan jama’ah.


Ciri-ciri Ahalussunnah Wal Jama’ah 

1. Istiqamah dengan Sunnah

Ahlussunnah adalah kelompok yang sangat focus menjalankan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan sahabatnya yang mulia. Ketika Rasulullah saw ditanya 1 kelompok yang selamat, ia menjawab;

ما أنا عليه اليوم وأصحابي

Mereka yang berpegang kepada ajaranku hari ini dan sahabatku

Adapun ahli bid’ah dan sesat tidak dapat dikatakan ahlussunnah 

2. Menjaga kebersamaan dan kerukunan

Selain berpegang pada Sunnah, juga menjaga persatuan dan tidak suka berpendapat berbeda dengan kesepakatan Umat Islam kebanyakan. Karena ahlussunnah meyakini wajibnya menjaga keutuhan dan kesatuan tidak suka memecah belah Ummat.


إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ

  ( الانع:159) 

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka (Al-An’am: 159)

3. Diikuti oleh Mayoritas Ummat

Poin ini merujuk pada kata jama’ah yang ada dalam istilah ini. Pendapat mayoritas umat dijadikan patokan karena adanya jaminan dari Rasulullah saw

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله لا يجمع أمتى على ضلالة، ويد الله مع الجماعة ومن شذ شذ إلى النار

Dari Ibnu Umar ra ia mengatakan: Rasulullah saw bersabd; sesungguhnya Allah tidak akan membuat umatku sepakat dalam kesesatan, rahmat Allah ada pada jama’ah dan barangsiapa ganjil (dalam pendapatnya) maka ia akan ganjil di Neraka.

Dalam hadis lainnya dipertegas lagi

عن أنس بن مالك رضي الله عنه يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن أمتى لا تجتمع على ضلالة ، فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الاعظم

Dari Anas bin Malik ra ia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda “sesungguhunya ummatku tidak akan sepakat dalam kesesatan, apabila kamu melihat ada perbedaan, maka hendaklah kalian berpegang kepada golongan mayoritas.

Alhamdulillah kita di Indonesia dan khususnya masyarakat Melayu dari nenek moyang kita selalu istiqamah dengan ahlussunnah wal jama’aah, belajar dengan guru yang belajar dengan gurunya sampai kepada Imam Abul Hasan Asy’ari dan seterusnya sampai ke Rasulullah saw.

Apa yang kita amalkan di Negri ini adalah amalan mayoritas muslimin, ini terbukti dengan ajaran yang kita dapatkan di langgar-langgar maupun di sekolahan yang mengajarkan sifat 20, membaca kitab-kitab aqidatul awwam, jawahirul kalamiyah syarah Jauhaurut Tauhid, kifayatul awam sampai ummul barahin yang merupakan kita rujukan akidah yang dipakai mayoritas umat Islam seluruh dunia.

Lihat pula Ulama-ulama kita, Syeikh Muhammad An-Nawawi Al-Bantani, Syeikh Abdul Wahab Rokan, Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Syeikh Abdusshamad Al-Falimbangi, Syeikh, Syeikh Yasin Al-Fadani sampai Raja Haji Ali dan Syeikh Burhanuddin Kuntu mengajarkan dan menebarkan ajaran yang sama yang kita amalkan di masjid-masjid kita sampai saat ini yang kokoh dengan ahlussunnah wal jama’ah mengikut Abul Hasan Asy’ari dalam akidah dan Imam Syafi’I dan urusan fikih.

Tidak cukup dengan itu, lihat pula ormas-ormas Islam yang ada di Negri ini Nahdatul Ulama, Perstauan Tarbiyah, Al-Jam’iyatul Washliyah, Nahdathul Wathan dan lain-lain.

 

Wallahu a’lam bis shawab