Buku Rujukan

header ads

Pelatihan Menggunakan Dana CSR Bank Indonesia


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Semoga Ustadz sehat wal'afiat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala

Saya ingin bertanya Ustadz, bagaimana hukumnya menyelenggarakan Program Pelatihan Sembelih Halal yang sumber dananya berasal dari bantuan CSR Bank Indonesia ?

Jawab :

Wa'alaikumussalaam warahmatullahi wa barakatuh

Tinjauan masalah ini bisa dari aspek fiqh (hukum halal haram), bisa juga dari sudut akhlaq/tasawwuf (wara', menjauhi yang syubhat).

Dalam tinjauan Fiqh, hukumnya boleh. Hal ini dapat kita qiyaskan dengan sebuah hadits Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam dari Sayyidatuna 'Aisyah Radhiallahu Anha: 

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اشْتَرَي طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍ إليَ أَجَلٍ وَرَهَّنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

"Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam membeli makanan dari seorang Yahudi untuk kebutuhan keluarganya secara tangguh dengan menggadaikan baju besinya".

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam beserta keluarganya makan dari "quut" (makanan pokok) yang dibeli dari seorang Yahudi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tahu bahwa harta orang Yahudi adalah harta yang juga bercampur dari perputaran uang riba dan maksiyat, karena mereka menghalalkan riba dan menghalalkan konsumsi dan transaksi khamar (يستحلون أثمان الخمور). Kalau tidak boleh memakan makanan yg dibeli dari orang Yahudi pelaku riba dan maksiyat, niscaya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak akan membeli makanan dari orang Yahudi, dan tidak akan memakannya bersama keluarganya. Selain itu, Kita juga dilarang untuk menghakimi barang dan orang kecuali jika nyata-nyata barang itu barang haram dan orang itu nyata-nyata pelaku maksiyat.

Contohnya: kita masuk rumah makan, sebelum makan apa kita bertanya dulu sama yang punya warung ini ayamnya disembelih pakai bismillah apa tidak (?). Kan tidak!. Begitu kita tahu warung tersebut warung makan muslim kita langsung duduk, pesan makanan lalu makan. Lain halnya jika warung itu nyata-nyata warung non muslim (BPK). Kita pun tentu tidak akan masuk ke dalamnya.

Yang kedua, jika tinjauannya akhlaq/tasawwuf. Bisa jadi jawabannya akan berbeda, karena aspek yang berbeda. Orang yang wara' tidak hanya menjaga diri dari yang haram, bahkan yang syubhat pun mereka tak akan sentuh, menjaga kebersihan hati dan kesucian diri. Jangankan yang haram, yang syubhat sedikit saja masuk ke dalam darah daging mereka akan mengganggu kekhusyu'an dan kenikmatan mereka beribadah kepada Rabb-Nya.

Org yang wara' tidak akan makan di warung (yang tidak pasti apakah ayam/sapinya disembelih dgn bismillah apa tidak?). Mereka hanya makan dari makanan yang ayamnya mereka sembelih sendiri, dari beras yang mereka tanam sendiri. Hanya dengan begitu hati mereka menjadi tenang, tidak was-was.

Tapi apakah pilihan yangg pertama salah? Jawabannya tentu saja tidak. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mencontohkan, berinteraksi dan bertransaksi dengan seorang Yahudi. Barangkali itulah hikmah hadits Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam diatas. Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang mulia ingin mengajarkan kepada kita: ada hukum Fiqih halal haram sesuai dengan konteks yang dihadapi ummatnya. Namun, ada konteks yang lebih tinggi lagi dari itu: menjaga kesucian hati dan diri dari hal-hal yang syubhat (wara').


Wallahu a'lam.


Konsultasi Ekonomi dan Keuangan Syariah

Yayasan Tabung Wakaf Umat (YTWU)

Oleh : Ust. Noki Syafriadi, Lc. M.E.Sy