Buku Rujukan

header ads

Shalat Isyraq Sa’at Ta’lim Masih Berlangsung

Kenikmatan kajian (majlis ta’lim) ba’da subuh terkadang berbenturan masuknya waktu syuruq. Sebagian jama’ah bergegas untuk berwudhu’ bahkan sebagian lainnya melaksanakan shalat, padahal majlis ta’lim sedang berlangsung. Apa yang paling tepat dalam masalah ini, apakah menunggu majlis selesai atau segera melaksanakan shalat meskipun ta’lim masih berlangsung?

Membahas masalah ini, perlu melihat dua sisi:

Pertama; Majlis Ilmu itu adalah majlis yang sangat mulia. Di antara hadis yang menjelaskan ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah saw mengatakan;

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إلاَ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةَ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَتْهُمُ الْمَلائكَةُ وَذَكَرهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِندَدهُ

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di rumah Allah  mereka membaca kitab Allah dan saling mengajarkan satu sama lain, melainkan Allah turunkan untuk mereka ketenangan, Allah cucurkan mereka rahmat-Nya, dan para Malaikat membersamai mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan Malaikat

Rumah Allah yang dimaksud dalam Hadis ini semua tempat yang digunakan untuk belajar, seperti Masjid, pondok, sekolahan. Adapun saling mengajarkan kitab yang dimaksud adalah semua pelajaran yang berkaitan dengan al-Qur’an, baik fikihnya, adabnya, akidah, dan lainnya. mereka mendapatakan do’a dari Malaikat dan kebanggan dari Allah swt. (Makanatu al- Ilmi wa al-Ulama, karya Al-Banjari)

Dari hadis di atas kita fahami betapa besarnya pahala majlis Ilmu. Berdasarkan inilah banyak kita melihat majlis-majlis yang tidak melaksanakan qabliyah Isya untuk menuntaskan pelajaran. Namun, untuk mendapatkan keutamaan majlis harus menjaga adab. Di antara adabnya adalah menghormati guru dan tidak meninggalkannya saat majlis berlangsung kecuali dalam kondisi sangat urgen. 

Kedua; Shalat Syuruq yang sejatinya adalah shalat Dhuha yang dilaksanakan di awal waktu dengan ketentuan khusus tidak harus dilaksanakan ketika masuknya waktu. Asalkan terpenuhinya syarat yang ditentukan maka ia tetap mendapatkan keutamaannya. Adapun syaratnya dapat dilihat dalam hadis berikut;

Dari Anas bin Malik Radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

Barang siapa yang shalat subuh berjama’ah  kemudian duduk berzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua raka’at, maka bagianya seperti pahala Haji dan Umrah.

1. Shalat subuh berjama’ah

2. Duduk berzikir sampai terbit Matahari

Berdasarkan dua hal ini dapat disimpulkan:

Menyelesaikan majlis ilmu lebih diutamakan daripada melaksanakan shalat dhuha di awal waktu. Terlebih lagi, mendengarkan ta’lim tidak menghalangi seseorang untuk mendapatkan keutaman dhuha di awal waktu (pahala seperti Haji dan Umrah). Oleh karena itu, sikap yang paling bijak ketika ingin mendapatkan semua keutamaan adalah dengan bersabar sampai majlis selesai dan kemudian melaksanakan shalat sunnah dua raka’at.


Referensi:

Makanatu al-Ilmi wa Al-Ulama wa Adabu Thalib al-Ilmi, karya Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki

Penulis:

Muhammad Hanafi (Khadim al-Muntada)