Buku Rujukan

header ads

Syamatah Yang Megundang Petaka

Al-Munawi dalam Fayd al-Qadir mendefenisikan Syamatah yaitu rasa gembira atas musibah yang menimpa seorang Muslim karena adanya permusuhan, baik yang memusuhimu atau yang kamu musuhi. Pelakunya disebut dengan Syamit. Defenisi ini bisa kita lihat dari perkataan Nabi Harun kepada Nabi Musa Alihimassalam dalam ayat berikut;


قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ ... (الاعراف: 150)

Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku… (QS. Al-A’raf 150)


Syamatah biasanya muncul pada diri orang yang tidak suka dengan ahli musibah, kedengkian di dalam hatinya menginginkan hal buruk terjadi pada orang yang bersebrangan pendapat atau bertikai dengannya, padahal orang tersebut seagama dengannya. Oleh karena itu, ketika musibah itu benar-benar terjadi mereka tertawa bergembira dan tidak menunjukkan sikap empati, malah seakan mensyukuri. 


Sifat buruk ini disebut Allah sebagai sifat utama orang-orang kafir dan munafiq yang selalu saja tidak senang melihat kemajuan Umat Islam. Ini Allah abadikan dalam ayatNya


إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط

Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran 120).


Allah swt mengutuk keras sikap tercela ini dan menjadikannya sebab untuk meng-azab atau memberikan hal buruk yang menimpa pelakunya. Dalam sabdanya Rasulullah saw menegaskan;


لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

Janganlah engkau menampakkan kegembiraan (karena musibah yang menimpa) saudaramu. Allah bisa saja merahmatinya (menyemalatkannya) dan memberimu musibah (HR. At-Tirmizi)


Sebagai sesama Muslim mestinya kita merasakan sakit saat melihat orang sakit, bukan menambah luka dengan kata-kata buruk seakan puas diri melihat musibah menimpa orang lain.


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya) (HR. Bukhari Muslim)


Ingat, musibah dapat menimpa siapa saja, ujian Allah akan menggilir semua makhluknya, maka sikap berempati pada orang lain terutama sesame muslim setidaknya dapat menjadi penawar kesusahan hati ketika mendapat musibah, sedangkan pandangan buruk yang tak berempati hanya menambah luka di atas luka. Oleh karena itu, Allah membenci Syamit dan mengembalikan keadaan padanya.


Rasulullah saw mengajarkan kita untuk menjauhi sifat ini dengan do’a yang diajarkannya


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوَذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ، وَدَرْكِ الشَّقَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Ya Allah aku berlindung kepada-mu dari takdir buruk, ujian yang berat, dan kegembiraan musuh (HR. Bukhari)


Penulis:
Ustadz Muhammad Hanafi