Buku Rujukan

header ads

BAHAYA MIRAS


STRATEGI PENCEGAHAN PENGGUNAAN NARKOBA

DALAM PERSPEKTIF MAQASHID AL-SYARI’AT

A.     Relevansi Khamr dan Narkoba

Kata narkoba secara bahasa tidak ditemukan secara teks dalam al-quran dan Sunnah, namun kata ini secara hukum dikiaskan dengan khamr,[1] dasar pengkiasannya (illatnya) adalah memabukkan, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, Rasulullah saw mengatakan;

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ.

Artinya:

“Setiap benda yang memabukkan adalah Khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram”.

Pengharaman narkoba yang merupakan hasil pengkiasan khamr ini kemudian menggolongkan apapun jenis benda yang dapat memabukkan sebagai narkoba yang diharamkan, baik itu zat aktif (narkotika) hasil dari pengolahan kimia, seperti sabu, kokain, lem dan lainya, atau benda yang tumbuh secara alami, seperti ganja, kecubung dan lainnya, atau penyalahgunaan, seperti mencampurkan alkohol dalam dosis yang tinggi, mencampurkan bodrek dalam minuman soda sprite dan lainnya.

 hal ini sudah di antisipasi oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

ليشربن أناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها... (رواه البخارى وإبن ماجه)

Artinya:

Umatku akan mengkonsumsi khamr dan mereka menyebutnya (khamr itu) dengan nama yang lain (HR. Bukhari & Ibn Majah)

Pada 10 Februari 1976 M. Hasil dari pengkiasan ini, menjadi modal bagi Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang masih diketuai oleh K.H. M. Syukri Ghazali untuk mengharamkan segala jenis narkoba, merujuk kepada bebera ayat dan sabda rasulullah SAW, diantaranya yang diriwayatkan oleh Jabir ra. ;

نهي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن كل مسكر ومفتر

Artinya:

Rasulullah saw melarang semua benda yang memabukkan dan melemahkan badan dan akal (H.R. Ahmad)

 

 

B.      Bahaya Narkoba Bagi

Narkoba diyakini membahayakan seluruh sistem dalam diri manusia, mempengaruhi susunan syaraf, mengakibatkan ketagihan dan ketergantungan, efek buruk yang cukup besar bagi kehidupan pengguna, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga berdampak buruk bagi tatanan sosial.

1.      Pengguna

a)      Fisik

-          Gangguan pada system syaraf (neurologis)

-          Gangguan pada jantung dan pembuluh  darah (kardiovaskuler)

-          Gangguan pada kulit (dermatologis)

-          Gangguan pada paru-paru (pulmoner)

-          Sering sakit kepala, mual-mual dan  muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan insomnia

-          Gangguan terhadap kesehatan reproduksi yaitu gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.

-          Gangguan terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)

-          Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya  adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV

-          Bahaya narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi over dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian

 

b)      Psikologis

-          Kerja lamban dan seroboh, sering tegang dan gelisah

-          Hilang rasa percaya diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga

-          Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal

-          Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan

-          Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri [2]

 

2.      Sosial

Keberadaan narkoba berdampak buruk pada tatanan sosial masyarakat, hal ini terjadi karena banyak alasan, di antaranya:

a)      Rentan Terjadi Tindak Kriminal

b)      Ketidaknyamanan dan rasa mencekam

c)      Kekhawatiran yang besar pada masyarakat sampainya benda tersebut ke keluarga mereka

d)      Hilangnya keharmonisan dalam rukun tetangga

e)      Lenyapnya rasa kasih kepada sesama, sehingga kerap terjadi pertengkaran

f)       dll

 

C.      Narkoba Induk Kejahatan

Narkoba selalu memicu terjadinya tindak kriminal, seperti pencurian, perampokan, tawuran, perzinahan, dan kejahatan lainnya. Hal ini, tidak lain dipicu oleh rusaknya akal sehat dan candu yang memaksa pengguna untuk mendapatkan benda tersebut berbagai cara.

Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash telah menegaskan الخمر أم الخبائث [3] “narkoba adalah induk segala kejahatan. Apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw ini sepertinya terbukti dengan nyata apa yag dirasakan masyarakat hari ini, Kepala kejaksaan Negri Bandung, Dwi Hartati menyebut 55 persen kejahatan yang ditanganinya dipicu oleh minuman keras/narkoba.[4]

Pusat Kajian Kriminologi FISIP UI bersama Gerakan Nasional Anti-Miras (GeNAM) menyimpulkan bahwa pelaku tindak kriminal khususnya pembunuhan selalu dipengaruhi oleh minuman keras[5]

Beberapa peristiwa di Negri ini yang masih hangat dalam ingatan kita, Peristiwa YY, seorang siswi di bengkulu di perkosa 14 pemuda yang lagi mabuk hingga tewas pada April 2016, pada November 2015 Mahasiswi (PTS) di Banyuwangi, diperkosa 4 pria yang sedang mabuk secara bergiliran hingga pingsan. Ini hanyalah beberapa peristiwa yang dapat kita sebutkan, yang pada intinya narkoba berpotensi menyebabkan semua jenis kehatan, Rasulullah saw bersabda, dari Abu Darda’

وَلَا تَشْرَبْ الْخَمْرَ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ

Artinya:     

Janganlah kamu mengkonsumsi narkoba, karena narkoba kunci segala kejahatan (H.R. Ibn Majah)

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti dalam pidatonya menyatakan: “Minuman keras juga perlu diberantas karena kejahatan lain bisa terjadi karena minuman keras. Contohnya seperti kasus pemerkosaan dan pembunuhan YY di Bengkulu. Itu pelakunya berada di bawah pengaruh minuman keras,” jelas Badrodin di Gedung Serba Guna Unila, Rabu (18/5/2016).[6]

D.     Maqashid al-Syari’ah Dan Upaya Mendatangkan Kemaslahatan

Maqashid al-Syari’at atau sasaran dari syari’at dan rahasia-rahasia yang yang terkandung di setiap ajaran Islam, didefenisikan oleh Imam al-Ghazaly (450-505 H) sebagai al-mashlahat, yaitu penjelasan yang mendasar tentang sesuatu, baik yang mendatangkan nilai manfaat atau menghilangakan mudharat, dengan cara memelihara lima tujuan dasar pokok syari’at, memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta mereka.[7]

Defenisi ini menjelaskan bahwa setiap syari’at Allah kepada hamba-Nya, baik berupa perintah maupun larangan itu bertujuan untuk merealisasikan kemaslahatan makhluk dan menghindarkan mereka dari segala sesuatu yang dapat menyebabkan hal buruk atau bahaya, sehingga dengan demikian manusia akan menyadari manfaat sesungguhnya syari’at islam bagi kehidupan mereka.

Kehadiran narkoba dengan segala dampaknya, menjadi musuh utama dari sasaran tujuan syari’at ini, karana potensi kerusakan yang muncul dapat menjauhkan pengguna dari agama, gangguan pada jiwa dan kesehatan menyebabkan lenyapnya nyawa, menghabiskan harta bahkan harus mencuri untuk mendapatkannya, merusak syaraf otak yang mengganggu kesadaran dan juga kerap terjerumus dalam perzinahan dan pemerkosaan.

E.      Strategi Pencegahan Narkoba

Pada dasarnya, semua elemen bertanggung jawab beredarnya narkoba, termasuk diantaranya keluarga, lingkungan, pendidikan, penegakan hukum, budaya dan agama, semua harus mengambil peran. Islam dan ajarannya sebagai ajaran keyakinan mayoritas di Negri ini mesti dijadikan acuan dalam penegakan hukum.

Masalah besar umat hari ini adalah paham sekularisme yang membuat orang tidak lagi menjadikan agama sebagai pedoman hidup, sehingga muncullah siskap hedonis yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup, dan mau tidak mau hidup lebih permisif dan menghalalkan segala cara.

Beberapa tindakan pencegahan sekaligus solusi pemberantasan yang ditawarkan dalam islam, antara lain;

1.      Amr Ma’ruf atau himbauan yang bersifat (persuasif)

Penegakan hukum mesti diawali dengan sosialiasi yang benar dan menyeluruh, dilakukan dengan pendekatan agama, budaya dan hukum. Kecilnya kesadaran masyarakat dalam memahami bahaya narkoba diyakini masih menjadi faktor utama besarnya angka pengguna di Negri ini, maka dalam upaya himbauan atau sosialisasi setidaknya pemerintah bergandengan dengan beberapa elemen penting;

a)      Keluarga

Sebagai sekolah pertama sang anak, maka pembekalan pengetahuan tentang narkoba harusnya sudah dimulai dalam didikan keluarga, karena الأم مدرسة الأولى orang tua adalah sekolah yang paling utama dimana sang anak belajar mengetahui banyak hal.

Kecilnya kepedulian orang tua dalam hal ini, banyak melahirkan pengguna-pengguna yang sebagian besar dari keluarga mengenah atas yang latar belakangnya berpendidikan.

b)      Lingkungan

Pepatah arab mengatakan الرجل إبن بيئته manusia itu adalah anak dari lingkungannya, maka mengkondusifkan lingkungan menjadi langkah utama dalam upaya penegakan. Sebagian tindak kejahatan khususnya narkoba berawal dari coba-coba atau alasan bersosial, namun kemudia malah membuatnya ketagihan.

c)      Pendidikan

Dunia pendidikan mestinya juga menjadi benteng utama bagi seorang anak, menjadikan sarana ini dalam sosialisasi bahaya narkoba sangat efektif, apalagi mampu mewujudkan dunia yang positif

d)      Masjid/ da’wah islam

Peran masjid dan da’wahnya sangat penting, karena da’wah islam tidak hanya sekedar mengenalkan bahayanya, tapi masuk dalam keyakinan

 

2.      Nahyu Munkar sebagai pencegahan (Preventif)

Upaya pencegahan dalam Islam sangat jelas, dan upaya pencegahan itu dimulai dari menjaga budaya yang baik. Tidak ada kata coba-coba dalam Islam,

كل ما أسكره حرام فقليله حرام

Sesuatu yang banyaknya diharamkan, maka sedikitnya pun haram

 

3.      Uqubat atau hukuman yang keras

 

Fokusnya Negara memberikan hukuman kepada pengedar, seakan lupa memberikan efek jera kepada pengguna, padahal salah satunya tidak akan ada tanpa satunya lagi. Islam memberikan sangsi yang tegas bukan hanya kepada pengedar Narkoba, tetapi juga kepada pengguna.

Rehabilitasi adalah upaya yang sangat baik, namun efek jera mesti harus ada dalam memberikan hukuman

 

F.      Penutup

Status darurat narkoba yang sering dipidatokan oleh presiden, kapolri dan pejabat-pejabat publik yang acap ditonton dan dibaca di media sepertinya tidak sejalan dengan tindakannya, dengan kata lain “status tidak sama dengan penanganan”. Biaya yang sangat mahal selalu menjadi alasan utama lambannya pola pemberantasan narkoba di Negri ini.

Islam selalu hadir memberi solusi untuk semua permasalahan, mengedepankan pencegahan, namun hukuman yang keras juga sebagai ancaman. Pencegahan itu yang masih belum terlihat serius di Negri ini, mudahnya mendapatkan minuman keras memicu lahirnya benda-benda berbahaya lainnya, maka untuk menutup ruang tersebut harus dimulai dari hal terkecil

       Rasulullah saw mengingatkan;

لعن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - في الخمر عشرة: عاصرها، ومعتصرها، وشاربها، وحاملها، والمحمولة إليه، وساقيها، وبائعها، وآكل ثمنها، والمشتري لها، والمشترى له

Artinya:

Rasulullah SAW melaknat sepuluh orang yang berkaitan dengan khamr,; orang yang memerasnya (produsen), distributor, peminum (pengguna), pengedar, pengirim (kurir), pelayan (penuang minumannya), penjualnya, orang yang mendapatkan hasil penjualan, pembeli, pembayar dan orang yang memesan

Yang diinginkan dari hadis ini adalah, pencegahan yang bersifat menyeluruh, bukan hanya fokus kepada pengedar, tapi semua aspek yang mungkin terlibat di dalamnya.



[1] Jenis minuman yang terbuat dari hasil permentasi buah kurma atau anggur.

[2] http://obatkistaovarium.net/bahaya-narkoba/  

 [3] Sunan Dar al-Quthniy

[4] http://www.merdeka.com/peristiwa/separuh-kejahatan-di-bandung-dipicu-karena-miras.html

[5] http://www.dakwatuna.com/2016/06/14/80918/miras-sumber-kejahatan/#axzz4EQmBYwFM

[6] http://www.tribunnews.com/regional/2016/05/18/kapolri-sebut-minuman-keras-sumber-kejahatan

[7] Al-Ghazaliy, al-Mustashfa Min ‘Ulum al –ushul, (Riyad: Dar al-Hijrah, 1418 H/ 1998 M) Juz II, cet. 1, hlm. 481-482.