Buku Rujukan

header ads

Bagaimana pendaat Imam Syafi'i terkait Ilmu Kalam?

Oleh: al-Faqir Dr. H. Zul Ikromi, Lc., MA

(Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Suska Riau - Komisi Fatwa MUI Kota Pekanbaru)


Tidak dipungkiri ada banyak perkataan Imam Syafi'i yang terkesan mencela ilmu Kalam. 

Diantaranya adalah ungkapan beliau yang bersumber dari Muhammad ibn Abdillah Ibn Hakam: 

- و ما شيئ أبغض إلي من الكلام و أهله

Begitu juga ungkapan beliau spt dinukil oleh Imam Abu Nu'aim:

لأن بيتلي المرء بكل ما نهى الله عنه ما عدا الشرك به خير له من النظر الكلام....) 

Ungkapan-ungkapan Imam Syafi'i ini mesti ditahqiq, terlebih dari sisi sanadnya. Namun, di sini kami tidak ingin masuk ke persoalan tersebut. 

Apa yang ingin kami sampaikan adalah, untuk menilai pandangan ulama terhadap sesuatu, kita mesti mengumpulkan semua riwayat yang mengabarkan tentang itu. Dan, setelahnya sangat urgen pula dilihat bagaimana penjelasan ungkapan tersebut dari murid-muridnya atau pelanjut ajaran dan pemahamannya yanh bermulazamah dengannya.

Tentang hal ini, Imam Baihaqi merupakan tokoh representatif dari kalangan murid Imam Syafi'i yang mengerti tentang maksud sang Imam. 

Tetapi sebelum menyimak penjelasan beliau, mari kita baca ungkapan Imam Syafi'i yang justru memberikan perspektif lain dari Ilmu Kalam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Karabisy:

كل متكلم على الكتاب و السنة فهو الجد، و ما سواه هذيان ( صوت المنطق،  ص ٦٧)
 
Prof. Dr. Abul Yazid di dalam karyanya berjudul Akiqah Islamiyyah 'Inda Aimmah al-Arba'ah menyebutkan betapa banyak sekali riwayat dari Imam Syafi'i tentang Ilmu Kalam yang zhahirnya tampak bertentangan. Antara membenarkan dan mencela, namun hakikatnya tidak ada pertentangan. Sebab yang dicela oleh Imam Syafi'i tentang Ilmu Kalam adalah yang bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah, sehingga dikhawatirkan keduanya diabaikan. (Abul Yazid Abu Zaid al-'Ajami, hal. 276)

Sekarang, mari kita ajak Imam Baihaqi menjelaskan apa sebenarnya maksud sang Imam saat ia mencela ilmu Kalam:

إنما أراد الشافعي بهذا الكلام حفصا و أمثاله من أهل البدع، و هذا مراده بكل ما حكي عنه في ذم الكلام و ذم أهله. 

و كيف يكون كلام أهل السنة و الجماعة مذموما عنده و قد تكلم فيه، و ناظر من يناظره و كشف تمويه من ألقى الى سمع بعض أصحابه من أهل الأهواء مما هم فيه ..
(البيهقي، مناقب الشافعي ٤٥٣)

Dalam kerangka inilah sebenarnya Imam Ibn Taimiyah secara objektif memberikan pandangan sebagai berikut:

و السلف لم يذموا جنس الكلام....... ولا ذموا الإستدلال و النظر و الجدل الذي أمر الله به رسوله..... فالكلام الذي ذمه السلف هو الكلام الباطل و هو المخالف للشرع والعقل..... (الفرقان بين الحق والباطل، ١١٠)

Oleh karena itu, sangat perlu ketuntasan ilmiyah saat melakukan pembacaan terhadap pendapat seorang tokoh. Jangan sampai menentukan ungkapan seorang tokoh lalu ditafsiri sendiri, terlebih dari oknum yang tidak memiliki jalur sanad ilmu dalam Mazhab Syafi'i. 

Namun, jika penjelasan Imam Baihaqi tetap ditolak, maka -sebagai pengikut Mazhab Syafi'iyah- barangkali diam adalah jawaban terbaik. Sebagaimana diamnya Imam Syafi'i saat terakhir berdiskusi dengan Imam Ishaq Ibn Rahuyah dalam kisah persoalan kulit binatang yang disamak itu.

Wallahu a'la wa a'lam